Wisuda STTIN Jakarta 2026 Tema: Becoming Impactful Servant Leaders

September 17, 2026

ggarakan Wisuda ke-25 sekaligus Dies Natalis ke-35 pada Kamis, 17 September 2026, di Aula STTIN Jakarta. Kegiatan dihadiri civitas akademika, keluarga wisudawan dan wisudawati, serta para tamu undangan yang hadir dalam rangkaian sidang senat terbuka dan pengutusan lulusan.

Wisuda tahun 2026 mengusung tema “Becoming Impactful Servant Leaders” yang berakar pada Markus 10:45. Tema ini menegaskan panggilan untuk membentuk pemimpin yang memiliki hati seorang pelayan, karakter yang berintegritas, kompetensi, serta kehidupan yang memberi dampak melalui pelayanan.

Dalam sambutan Ketua STTIN Jakarta menyampaikan bahwa perayaan tahun ini menandai perjalanan 35 tahun STTIN Jakarta, Wisuda ke-25, dan kelulusan wisudawan-wisudawati angkatan ke-31. Momentum kelulusan dipandang bukan sebagai akhir perjalanan akademik, melainkan awal untuk memasuki pelayanan dan tanggung jawab yang lebih luas.

Rangkaian kegiatan diawali dengan prosesi unsur pimpinan, yayasan, staf dosen, dan para wisudawan, kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Sidang Senat Terbuka dibuka oleh Ketua STTIN Jakarta, Dr. Yakobus Kristiyono, M.Pd.K., M.Th. Setelah doa pembukaan dan pujian bersama, acara memasuki salah satu agenda utama, yaitu orasi ilmiah.

Orasi Ilmiah Soroti Mutu Pendidikan dan Transformasi Digital

Orasi ilmiah disampaikan oleh Dr. Weldemina Yudith Tiwery, S.Si., M.Hum., D.Th., Kepala Subdirektorat Pendidikan Tinggi yang hadir mewakili Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama RI.

Mengangkat tema “Becoming Impactful Servant Leaders”, Dr. Weldemina Yudith menekankan pentingnya menjaga kualitas dan mutu pendidikan di tengah perubahan zaman serta perkembangan teknologi yang semakin cepat. Penguasaan teknologi, menurut pesan yang disampaikan dalam orasi tersebut, perlu berjalan selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan agar pendidikan tetap mampu menjawab berbagai perubahan dan kebutuhan masyarakat.

Selain perkembangan teknologi, orasi ilmiah juga menyoroti pentingnya ketertiban administrasi dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran. Administrasi tidak dipandang hanya sebagai pemenuhan formalitas kelembagaan, tetapi menjadi bagian dari tata kelola pendidikan yang membantu institusi memahami kebutuhan masyarakat dan menghadirkan dampak yang nyata.

Perhatian terhadap peningkatan mutu juga diarahkan kepada Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen (PTKK). Dalam orasinya disampaikan bahwa penguatan mutu PTKK memasuki tahapan baru melalui keberadaan lembaga penjaminan mutu yang diarahkan untuk meningkatkan kualitas dan akreditasi perguruan tinggi.

Direktorat Jenderal Bimas Kristen juga terus mendorong peningkatan mutu melalui digitalisasi tata kelola. Selain itu, pembentukan dewan guru besar menjadi bagian dari upaya untuk mempercepat tata kelola sekaligus mendorong peningkatan kualitas akademik di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen.

Pesan tersebut memperluas makna Becoming Impactful Servant Leaders. Kepemimpinan yang berdampak tidak berhenti pada kemampuan memimpin atau penguasaan ilmu teologi, tetapi juga membutuhkan kesiapan menghadapi transformasi teknologi, tata kelola yang tertib, peningkatan mutu akademik, dan kepekaan terhadap kebutuhan masyarakat.

Wisudawan Teguhkan Komitmen Pelayanan

Setelah orasi ilmiah, rangkaian dilanjutkan dengan Mars STTIN dan laporan akademik oleh Wakil Ketua I Bidang Akademik, Dr. R. Bimo Ario Tedjo, M.Th. Agenda kemudian memasuki pelantikan wisudawan serta pengucapan Ikrar Wisudawan yang dipimpin oleh Jhosua Tristan, S.Th.

Melalui ikrar tersebut, para lulusan berjanji mempertahankan integritas sebagai pelayan Tuhan, menjaga komitmen kepada Allah dan gereja, serta tetap memiliki komitmen terhadap penginjilan dan misi. Mereka juga berjanji menjunjung nama baik almamater melalui perkataan, sikap, dan perbuatan.

Komitmen itu dilanjutkan dengan tekad untuk tetap setia melayani sesuai karunia rohani, pengetahuan, dan kecakapan yang telah diterima. Para wisudawan juga menyatakan kesediaan untuk menghargai, mempertahankan, dan mengabdikan ilmu pengetahuan yang diperoleh bagi pembangunan manusia Indonesia.

Prosesi pengutusan dipimpin oleh Dr. Darius P. Maro, M.Th., dilanjutkan dengan doa pengutusan oleh Ketua Yayasan Pelayanan Halleluyah, PS Jung Hyo Jin. Rangkaian berikutnya mencakup paduan suara wisudawan, ungkapan kasih wisudawan, paduan suara mahasiswa STTIN Jakarta, persembahan syukur, serta doa syukur, syafaat, dan doa berkat oleh Dr. Feri Simanjuntak, M.Pd.K.

Jangan Berhenti pada Gelar

Ketua STTIN Jakarta, Dr. Yakobus Kristiyono, M.Pd.K., M.Th., dalam sambutannya mengingatkan para lulusan bahwa gelar akademik bukanlah tujuan akhir. Pendidikan yang telah dijalani perlu diterjemahkan menjadi pelayanan, keteladanan karakter, dan kehidupan yang berdampak.

“Jangan berhenti pada gelar. Jadikan ilmu menjadi pelayanan, jadikan karakter menjadi kesaksian, dan jadikan hidup Saudara sebagai berkat,” pesan Dr. Yakobus kepada para wisudawan dan wisudawati.

Ia juga menegaskan arah pengembangan STTIN Jakarta untuk terus bertumbuh sebagai lembaga pendidikan teologi yang unggul dalam pemuridan holistik dan misi kontekstual. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan kurikulum, peningkatan kualitas dan kompetensi dosen, perbaikan tata kelola, pembinaan karakter dan spiritualitas, serta peningkatan kualitas pembelajaran dan pelayanan.

Ketua Yayasan Pelayanan Halleluyah, PS Jung Hyo Jin, turut menyampaikan pesan kepada para lulusan. Ia menekankan bahwa wisuda bukanlah akhir, melainkan permulaan baru bagi para wisudawan untuk menjalani panggilan dan pelayanan yang dipercayakan kepada mereka.

Pada bagian akhir kegiatan, Yurni Marta Waruwu, S.Th menyampaikan sambutan mewakili wisudawan. Acara dilanjutkan dengan sambutan Ketua Yayasan Pelayanan Halleluyah dan Ketua STTIN Jakarta, penyerahan Sertifikat READYSETGO oleh Mr. Na Jin Young, penutupan sidang wisuda, sesi foto bersama, doa ramah tamah oleh Fredrik Elias Talakua, M.Pd., serta pemberian ucapan selamat kepada para lulusan.

Wisuda ke-25 dan Dies Natalis ke-35 ini menjadi penegasan bahwa pendidikan teologi memiliki tanggung jawab untuk menghasilkan lulusan yang mampu menghubungkan pengetahuan, karakter, pelayanan, serta kesiapan menghadapi perubahan zaman. Semangat itu dirangkum STTIN Jakarta melalui pesan: “Dipanggil untuk Bertumbuh, Diperlengkapi untuk Melayani, dan Diutus untuk Berdampak.”

error: Jangan Copy Paste, Tuhan Memberkati
Tanya Saya