{"id":667,"date":"2019-04-12T08:04:50","date_gmt":"2019-04-12T08:04:50","guid":{"rendered":"https:\/\/sttin.ac.id\/?p=667"},"modified":"2019-04-12T09:22:18","modified_gmt":"2019-04-12T09:22:18","slug":"penyembahan-pada-ciptaan-atau-pencipta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sttin.ac.id\/?p=667","title":{"rendered":"PENYEMBAHAN PADA CIPTAAN ATAU PENCIPTA"},"content":{"rendered":"<p><strong><u><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-693 alignleft\" src=\"https:\/\/sttin.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/cats-1.jpg\" alt=\"\" width=\"103\" height=\"143\" \/>PENYEMBAHAN PADA CIPTAAN ATAU PENCIPTA<\/u><\/strong><\/p>\n<p>Pdt. Mozes Huwae, M. Th<\/p>\n<p><strong><em>\u00a0<\/em><\/strong>Menyembah adalah tindakan beribadah atau pemujaan dan penghormatan melalui sikap, tindakan, perkataan, dan kehidupan kepada objek yang salah atau objek yang benar.\u00a0 Hal ini ada pada diri manusia, sejak jatuh di dalam dosa.\u00a0 Karena itu, sikap yang \u00a0ditonjolkan dalam diri manusia ada dua hal berbeda, menyembah Pencipta atau yang diciptakan. Oleh karena dapat terjadi bahwa manusia bukan menyembah kepada Pencipta tetapi kepada ciptaan.\u00a0 Walaupun muncul anggapan \u201cmanusia beragama\u201d adalah orang-orang yang menyembah kepada Pencipta, sesuai definisi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, \u201cagama adalah ajaran atau sistem yang mengatur tata keimanan kepada Tuhan Yang Mahaesa\u201d<a href=\"#_ftn1\" name=\"_ftnref1\">[1]<\/a><\/p>\n<p>Untuk itu, pembahasan tema ini penting sekali.\u00a0 Namun perlu pembatasan pembahasannya, maka penulis membatasi dalam ekpsosisi Roma 1:18-3:31.\u00a0 Mengapa?\u00a0 Oleh karena nats ini berbicara secara khusus terjadi penyembahan yang salah kepada dua bangsa yang mewakili seluruh manusia di dunia ini, yaitu non-Yahudi dan Yahudi yang memiliki hukum Taurat. Kedua-duanya menyembah ciptaan dalam bentuk yang berbeda.\u00a0 Namun, penulis hanya melihat garis besar pemikiran dengan kata-kata kuncinya.\u00a0 Bila disederhanakan tema ini berhubungan dengan menyembah kepada Pencipta atau ciptaan.<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Menyembah Ciptaan<\/strong>. Roma 1:18-2:29<\/li>\n<\/ol>\n<p>Pembahasan bagian ini dilihat dari dua bangsa yang mewakili umat manusia sesuai dengan konsep Alkitab itu sendiri, yaitu non-Yahudi dan Yahudi.\u00a0 Penjelasannya sebagai berikut:<\/p>\n<ol>\n<li>Non-Yahudi. (Roma 1:18-32)<\/li>\n<\/ol>\n<p>Ungkapan sebab murka Allah nyata dari sorga, 1:18; istilah yang digunakan <em>orgee<\/em>, bukan suatu tindakan otomatis tanpa emosi yang keluar dari kesucian Allah yang tidak kompromi dengan dosa, tetapi hukuman terjadi karena kesucian Allah yang menuntut dosa harus dihukum.\u00a0 Namun, tidak berarti langsung terjadi secara supranatural dari tahta Allah, tetapi menegaskan bahwa murka itu telah disingkapkan dan\u00a0 dibuka secara jelas.<a href=\"#_ftn2\" name=\"_ftnref2\">[2]<\/a><\/p>\n<p>Hal ini ditujukan kepada non-Yahudi, karena menindas kebenaran dengan kelaliman, walau secara penyataan umum, Allah menyatakan diri melalui kekuatan-Nya yang kekal dan\u00a0 keilahian-Nya melalui karya penciptaan-Nya, telah nampak di dalam pikiran non-Yahudi, sehingga tidak dapat berdalih tentang keberadaan Allah.<a href=\"#_ftn3\" name=\"_ftnref3\">[3]<\/a>\u00a0 Namun, mereka tidak memuliakan atau mengucap syukur kepadaNya, karena merasa tidak perlu mengakui Allah (28).\u00a0 Dengan istilah yang digunakan, <em>doksazoo <\/em>dan <em>eukharisteoo, <\/em>dalam bentuk Aoris, merupakan dua kewajiban dalam satu tugas secara keseluruhan pada Allah.<a href=\"#_ftn4\" name=\"_ftnref4\">[4]<\/a>\u00a0 Namun, mereka memilih menyembah ciptaan, bukan yang Pencipta. Mereka bertindak dengan pikiran yang sia-sia, hati yang bodoh, menjadi gelap, seolah-olah penuh hikmat, tetapi menjadi bodoh.<\/p>\n<p>Penyembahan dan ibadah dilakukan kepada berhala-berhala buatan tangan manusia, yang mirip manusia fana, makhluk ciptaan berupa burung, binatang-binatang, dan lain-lain untuk disembah.\u00a0 Akibat mereka menyembah ciptaan, ada tiga hal yang terlihat di dalam kehidupan mereka.\u00a0 <em>Pertama<\/em> keinginan hati akan kecemaran; <em>kedua, <\/em>penuh dengan hawa nafsu yang memalukan; <em>ketiga <\/em>penuh dengan pikiran yang terkutuk.\u00a0 <em>Keempat, <\/em>setuju dengan orang-orang yang melanggar tuntutan hukum Allah.\u00a0\u00a0 Mereka membuat allah ciptaannya sendiri yang keluar dari hati mereka, sebagai sikap mengabaikan Allah, Rom 1:24, 26, 28.<a href=\"#_ftn5\" name=\"_ftnref5\">[5]<\/a>\u00a0 Seperti dikatakan Tuhan Yesus bahwa kenajisan datang dari dalam hati dan pikiran bukan dari luar, Mat 15:18-20.<\/p>\n<p>Penggunaan kata <em>katekhontoon partisip present genetif <\/em>dan <em>toon anthropoon en adikia(i) <\/em>dan keterangan <em>dio<\/em> pada ayat 24 dan 26 dan kata <em>kathos <\/em>(bahkan) dalam ayat 28, <em>alla kai<\/em> tetapi juga dalam ayat 32,\u00a0 mempertegas alasan manusia hidup di luar kewajaran, karena menindas kebenaran dengan kelaliman, sehingga terikat dengan berbagai bentuk dosa.<a href=\"#_ftn6\" name=\"_ftnref6\">[6]<\/a>\u00a0 Allah menyerahkan mereka ke dalam bentuk hidup yang terkutuk.\u00a0 Keinginan, hawa nafsu, dan pikiran-pikiran yang terkutuk.\u00a0 Sebuah kehidupan didalam dosa dan bergelimang di dalam dosa menyatakan kehidupan yang menyembah kepada ciptaan bukan Sang Pencipta.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li><strong>Yahudi<\/strong>. (Roma 2:1-16)<\/li>\n<\/ol>\n<p>Yahudi juga tidak menyembah Pencipta, hal itu terlihat dalam ungkapan <em>oo anthrope <\/em>yang diikuti <em>partisip present<\/em> substantive <em>ho krinoon, <\/em>menyatakan kepada orang-orang yang memiliki tanggung jawab, yaitu Israel, yang memiliki hukum Taurat.<a href=\"#_ftn7\" name=\"_ftnref7\">[7]<\/a>\u00a0 Namun, sekalipun mereka memiliki hukum Taurat, mereka menjadi pelanggar hukum Taurat.\u00a0 Mereka tidak melakukan apa yang diperintahkan oleh Hukum.\u00a0 Sekalipun mereka memiliki hukum Taurat, hukum ini tidak dapat menyelamatkan mereka, ketika mereka melanggar hukum, karena hukum Taurat bukan alat yang menyelamatkan mereka, tetapi supaya mereka mengenal kebenaran Allah dan mengajarkan kepada orang lain.\u00a0 Bahkan tanda sunat yang mereka milikipun tidak dapat menyelamatkan mereka, bila mereka tidak sunat hati, yaitu menaati apa yang sudah diperintahkan oleh Hukum.\u00a0 Dan hal ini harus dilakukan dengan iman.<\/p>\n<p>Murka Allah seperti diungkapkan kepada Non-Yahudi, <em>orgee, <\/em>juga menimpa Yahudi, karena sekalipun mereka melanggar, mereka tetap mengeraskan hati; tidak mau bertobat; bahkan mencari kepentingan sendiri, taat kepada kelaliman.\u00a0 Penggunaan kata depan <em>kata<\/em> dengan kata benda<em> skleeroteeta sou <\/em>dan <em>ametanoeeton kardian<\/em> dalam kasus <em>akusatif<\/em> yang mempertegas sikap mereka yang menentang Pencipta, yang diikuti dengan kata <em>de,<\/em> tetapi.\u00a0 Yaitu menolak kemurahan hati Allah pada mereka dan bersikap menentang-Nya. (Rom 2:5)<a href=\"#_ftn8\" name=\"_ftnref8\">[8]<\/a><\/p>\n<p>Paulus mengeritik rasa bangga mereka terhadap hukum Taurat, karena pelanggar hukum. Dan membandingkan dengan non-Yahudi yang tidak memiliki hukum, tetapi hukum Taurat tertulis di dalam hati melalui hati nurani yang turut bersaksi dan pikiran mereka yang saling menuduh dan saling membela, Rom 2:14-16; bdk 2 Sam 24:10.\u00a0 Namun, itupun tidak membawa non-Yahudi pada keselamatan di dalam penghakiman.\u00a0 Oleh karena, suara hati mereka tercemar oleh dosa, hingga membutuhkan penebusan oleh darah Kristus,\u00a0 Ibr 10:22.\u00a0 Oleh karena, suara hati tidak dapat membawa seseorang pada kebenaran Allah, bdk Yoh 8:47.<\/p>\n<p>Sikap penolakan Yahudi nyata, ketika mereka menolak Kristus yang adalah Sang Mesias yang telah datang memenuhi nubuatan di dalam Perjanjian Lama.\u00a0 Itulah sebabnya, Tuhan Yesus mengeritik mereka dengan sikap mereka yang menolak Mesias yang telah datang kepada mereka.\u00a0 Ketika mereka bangga dengan Abraham sebagai bapa leluhur mereka, dan menolak Tuhan Yesus.\u00a0 Ia berkata kepada mereka, Iblis adalah bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu, Yoh 3:44.<\/p>\n<p>Mereka lebih meninggikan adat istiadat manusia daripada Firman Allah itu sendiri, menekanan fisik atau yang nampak, dan lahiriah bukan hati.\u00a0 Memberontak pada Allah dengan melanggar hukum.\u00a0 Hal ini sama dengan penyembahan berhala.\u00a0 Akibatnya, nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain. (Roma 2).<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li><strong>Kesimpulan Yahudi dan Non Yahudi Menolak Menyembah Pencipta<\/strong>.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Pernyataan Yahudi maupun non-Yahudi telah ada dibawah kuasa dosa, ditegaskan di Roma 3:9, yang dijelaskan secara rinci di dalam ayat 10-20.\u00a0 Kemudian diulangi di alam ungkapan \u201csemua orang telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah\u201d dalam Roma 3:23 merupakan sebuah kesimpulan yang berangkat dari Roma 1:18-2:29.\u00a0 Baik orang non-Yahudi maupun Yahudi memberontak pada Pencipta.\u00a0 Mereka mengambil jalan sendiri untuk menyembah ciptaan, bukan menurut jalan Pencipta itu sendiri.\u00a0 Oleh karena, mereka dibawah kuasa dosa.\u00a0 Kata depan <em>hupo <\/em>dengan kata benda <em>akusatif hamartian <\/em>dengan kata kerja bantu <em>to be infinitif present einai <\/em>mempertegas kedua Yahudi dan Non-Yahudi dibawah kuasa dosa.<\/p>\n<p>Orang Yahudi memiliki Hukum Taurat dan sunat kulit khatan, sedangkan non-Yahudi memiliki suara hati yang menjadi Hukum Taurat di dalam hidup mereka sebagai anurgah umum.\u00a0 Namun, keduanya tidak menyembah Allah.\u00a0 Orang Yahudi melanggar\u00a0 hukum Taurat dan tidak sunat hati, sedangkan Non-Yahudi melanggar suara hati, dengan menyembah ciptaan, karena keterbatasan suara hati yang berdosa dan dikuasai dosa, sehingga tidak mungkin mampu melakukan Taurat secara tidak tertulis maupun tertulis.\u00a0 Perbandingan ini tidak berbicara keselamatan oleh Hukum Taurat ataupun suara hati, tetapi ukuran hukuman yang akan dikenakan pada mereka.\u00a0 Jadi, kedua Yahudi dan non-Yahudi membutuhkan Injil keselamatan.<a href=\"#_ftn9\" name=\"_ftnref9\">[9]<\/a><\/p>\n<p>Tentu ungkapan, semua orang telah berdosa dijelaskan dengan kata <em>gar<\/em> menyatakan alasan sebelumnya, yaitu pembahasan pada Non-Yahudi maupun Yahudi.\u00a0 Semuanya, menyatakan potensi manusia cenderung menyangkal Allah, menyembah ciptaan dari pada menyembah Sang Pencipta.\u00a0 Baik Non-Yahudi dengan suara hatinya, maupun Yahudi\u00a0 dengan Hukum Taurat.<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Menyembah Pencipta<\/strong>. 3:21-31<\/li>\n<\/ol>\n<p>Dasar dari menyembah Pencipa adalah iman.\u00a0 Dasar ini berlaku bagi orang Yahudi maupun non-Yahudi.\u00a0 Sehingga, kebanggaannya adalah berdasarkan iman, bukan berdasarkan perbuatan.\u00a0 Oleh karena, baik orang tidak bersunat maupun yang bersunat menurut peraturan Hukum Taurat dibenarkan karena iman, bukan perbuatan. (Rom 3:30).<\/p>\n<p>Pusat menyembah Pencipta adalah Kristus sebagai dasar Iman.\u00a0 Berlaku baik bagi orang non-Yahudi maupun orang Yahudi.\u00a0 Oleh karena penebusan Kristus yang sempurna di atas kayu salib, sehingga baik orang yahudi maupun non-Yahudi menerima penebusan dosa yang sempurna melalui Karya Kristus di atas Kayu salib melalui iman, Roma 3:24.<\/p>\n<p>Hal ini merupakan ketetapan sorgawi dimana Kristus menjadi Juru pendamai antara manusia dan Allah melalui kematian di atas kayu salib dan kebangkitan-Nya.\u00a0 Salib menyatakan keadilan dan kasih Allah dinyatakan, sehingga yang percaya selamat, tetapi yang tidak percaya dihukum. Roma 3:25-26.\u00a0 Oleh karena itu, dasar kebanggaan orang benar bukan karena perbuatan tetapi berdasarkan iman dan objek iman adalah Kristus.<\/p>\n<p>Dasar menyembah Kristus adalah Dia Allah yang menjadi manusia, untuk memperdamaikan manusia dengan Bapa di sorga melalui karya penebusanNya di atas kayu salib.\u00a0 Dialah Sang Juruselamat yang dijanjikan, agar\u00a0 manusia bergantung padaNya, sehingga memperoleh hidup kekal.<\/p>\n<p>Non-Yahudi memiliki suara hati sebagai anugrah umum untuk memilih Sang Pencipta, tetapi suara hati tidak cukup membawa non-Yahudi kepada Penyembah yang benar.\u00a0 Mereka harus datang pada Kristus baru \u00a0dapat mengenal Sang Pencipta secara benar.\u00a0 Begitupun Yahudi yang memiliki hukum Taurat, harus datang pada Kristus.\u00a0 Oleh karena Taurat penuntun untuk percaya pada Kristus yang menggenapi seluruh hukum Taurat.<\/p>\n<ol>\n<li><\/li>\n<\/ol>\n<p>Memberontak pada Allah adalah kecenderungan hati manusia, sejak jatuh di dalam dosa. Berlakunya, untuk Yahudi yang memiliki Taurat dan Sunat, maupun non-Yahudi dengan suara hatinya sebagai anuregah umum.\u00a0 Yahudi gagal karena mengandalkan kebenaran perbuatan Taurat dan Sunat kulit khatan, bukan kebenaran Iman melalui Taurat dan sunat hati yang membawa Pada Kristus.\u00a0 Non-Yahudi gagal karena mengandalkan suara hati yang terbatas dan berdosa.\u00a0 Sehingga, tidak menyembah Sang Pencipta, tetapi menyembah ciptaan sendiri.<\/p>\n<p>Ciri-ciri penyembah ciptaan atau Pencipta dapat dilihat dari sikap, tindakan dan Perbuatan terhadap Pencipta, \u00a0ciptaan, dan sesama.\u00a0 Penyembah ciptaan merasa tidak perlu dan tidak membutuhkan Allah.\u00a0\u00a0 Akan tetapi, disisi lain menciptakan allah sendiri dengan tangan mereka untuk disembah.\u00a0 Pikiran mereka sia-sia, hidup di dalam dosa, menolak kebenaran Firman Allah, Alkitab, dan menganggap sebagai buku biasa, tradisi manusia, yang perlu direkontruksi ulang menurut kebenaran mereka.\u00a0 Keinginan, pemikiran, dan kehidupan yang penuh dengan dosa dan terikat dengan adat istiadat peraturan manusia.\u00a0 Adat dianggap lebih tinggi dari Firman, seperti yang terjadi pada Yahudi, sehingga abaikan Firman Allah.<\/p>\n<p>Sedangkan, penyembah Pencipta melakukan hukum Taurat karena iman dan memiliki sunat hati.\u00a0 Terbuka dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat di dalam hati.\u00a0\u00a0\u00a0 Menerima otoritas Alkitab adalah kebenaran Firman.\u00a0 Lebih mengutamakan kebenaran Firman Allah daripada penghormatan manusia dan adat istiadatnya. Pikiran, keinginan, dan keputusan hati hanya kepada Pencipta.\u00a0 Menolak kehidupan dosa dan penyembahan pada ciptaan. Memiliki hati nurani yang bersih, yang sudah ditebus oleh darah Kristus, dan selalu berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang bersih dihadapan Allah maupun manusia oleh iman kepada Kristus.\u00a0 Dengan demikian, ciri-ciri di atas dapat digunakan untuk koreksi apakah kita menyembah Sang Pencipta atau ciptaan.<\/p>\n<p><strong><em>\u00a0<\/em><\/strong><\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref1\" name=\"_ftn1\">[1]<\/a> Kamus Besar Bahasa Indonesia,\u00a0 Hal 17<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref2\" name=\"_ftn2\">[2]<\/a> Petrus Maryono, <em>Diktat Kuliah STII, 2006.<\/em><\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref3\" name=\"_ftn3\">[3]<\/a>Cranfield, C. E. B.: <em>A Critical and Exegetical Commentary on the Epistle to the Romans<\/em>. London; New York : T&amp;T Clark International, 2004, p 41.\u00a0 Menindas\u00a0 hubungan dgn aturan Kerajaan Roma, menindas dalam pengertian buruk.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref4\" name=\"_ftn4\">[4]<\/a> Kennet L. Barker and John R. Kohlenberger III, <em>The Expositior\u2019s Bible Commentary, <\/em>Grands Rapids, Zondervan, 1994.\u00a0 P.\u00a0 527.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref5\" name=\"_ftn5\">[5]<\/a> Baker Exegetical Commentary on the New Testament: Romans<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref6\" name=\"_ftn6\">[6]<\/a> A Grammatical Analysis of the Greek New Testament p 459.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref7\" name=\"_ftn7\">[7]<\/a> Baker Exegitical Commentary on The New Testament: Romans , p 106.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref8\" name=\"_ftn8\">[8]<\/a> A Grammatical Analysis of the Greek New Testament, 461<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref9\" name=\"_ftn9\">[9]<\/a> Idem, 119.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PENYEMBAHAN PADA CIPTAAN ATAU PENCIPTA Pdt. Mozes Huwae, M. Th \u00a0Menyembah adalah tindakan beribadah atau pemujaan dan penghormatan melalui sikap, tindakan, perkataan, dan kehidupan kepada objek yang salah atau objek yang benar.\u00a0 Hal ini ada pada diri manusia, sejak jatuh di dalam dosa.\u00a0 Karena itu, sikap yang \u00a0ditonjolkan dalam diri manusia ada dua hal berbeda, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":693,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[32,31,34,33],"class_list":["post-667","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-artikel","tag-buletin","tag-kristen","tag-pendidikan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sttin.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/667","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sttin.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sttin.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sttin.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sttin.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=667"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/sttin.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/667\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sttin.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/693"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sttin.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=667"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sttin.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=667"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sttin.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=667"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}