STTIN Jakarta Membekali Mahasiswa Menghadapi Tantangan Pelayanan melalui Seminar “Mental Resilience”

Juni 18, 2026

STTIN Jakarta, 26 Mei 2026 — Sekolah Tinggi Teologi Immanuel Nusantara (STTIN) Jakarta menyelenggarakan seminar bertema “Mental Resilience: Menjadi Pelayan Tuhan yang Tangguh, Rendah Hati, dan Berintegritas” dalam rangkaian Retreat Mahasiswa STTIN Jakarta di Gerasa Farm, Bogor.

Kegiatan ini menghadirkan Dra. Yohana Domikus, M.Si., Psikolog sebagai narasumber. seminar dilaksanakan sebagai bagian dari persiapan mahasiswa yang akan menjalani pelayanan lapangan selama 1 tahun dan 2 bulan di berbagai gereja, yayasan, dan lembaga sosial lainnya.

Pendahuluan

Pelayanan lapangan merupakan bagian penting dalam proses pembentukan mahasiswa STTIN Jakarta. Selama masa pelayanan, mahasiswa tidak hanya dituntut menerapkan pengetahuan teologi, tetapi juga harus mampu beradaptasi dengan lingkungan baru, bekerja sama dengan banyak pihak, menerima arahan, menghadapi perbedaan karakter, serta menyelesaikan berbagai persoalan yang terjadi di lapangan.

Dalam praktiknya, mahasiswa dapat menghadapi tekanan pelayanan, konflik, kritik, penolakan, kegagalan program, keterbatasan fasilitas, perubahan tugas, kelelahan, maupun persoalan sosial yang kompleks. Oleh karena itu, diperlukan kesiapan mental agar mahasiswa tidak mudah menyerah dan mampu menjalankan tanggung jawab pelayanan secara konsisten.

Solusi Permasalahan

Seminar mental resilience diberikan untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan menghadapi tekanan dan bangkit dari kesulitan. Resiliensi tidak hanya berarti mampu bertahan, tetapi juga mampu belajar, bertumbuh, dan menjadi lebih matang melalui pengalaman pelayanan.

Dalam sesi ini, mahasiswa diajak mengenali berbagai faktor yang dapat melemahkan ketahanan mental, seperti kesulitan menerima kritik, kebutuhan akan pengakuan, ego yang rapuh, luka batin, trauma psikologis, serta keyakinan negatif yang membatasi diri.

Narasumber juga menyampaikan lima langkah penting dalam membangun resiliensi, yaitu:

  1. menata cara pandang terhadap masalah;
  2. mengelola emosi secara sehat;
  3. memiliki tujuan hidup dan pelayanan yang jelas;
  4. menjaga kesehatan fisik; dan
  5. membangun relasi yang erat dengan Tuhan.

Seminar ini didasarkan pada Kolose 2:6–7 yang menekankan pentingnya hidup berakar, dibangun, dan semakin teguh di dalam Kristus.

Target dan Luaran

TARGETLUARANCAPAIAN
Mahasiswa memahami pentingnya mental resilienceMateri pembekalan resiliensiMahasiswa memahami cara menghadapi tekanan pelayanan
Mahasiswa mengenali kondisi dirinyaLembar refleksi CD-RISC 10RMahasiswa mampu menilai kemampuan beradaptasi dan mengelola emosi
Mahasiswa siap menghadapi persoalan lapanganStrategi praktis menghadapi masalahMahasiswa mengetahui langkah merespons konflik, kritik, dan kegagalan
Mahasiswa memiliki dasar spiritual yang kuatRefleksi Kolose 2:6–7Mahasiswa memahami pentingnya berakar di dalam Kristus

Hasil dan Pembahasan

Melalui seminar ini, mahasiswa memperoleh pemahaman bahwa pelayanan tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan. Setiap tempat pelayanan memiliki budaya, kebutuhan, karakter pemimpin, dan persoalan yang berbeda.

Mahasiswa diajak untuk tidak langsung menyerang balik, membela diri secara berlebihan, menyimpan dendam, atau menghindari pihak yang memberikan evaluasi ketika menerima kritik. Sebaliknya, mahasiswa perlu belajar mendengarkan, melakukan refleksi diri, dan menjadikan masukan sebagai bahan pertumbuhan.

Mahasiswa juga dilatih untuk mengubah cara berpikir yang kurang sehat. Pernyataan seperti “saya gagal” dapat diubah menjadi “saya sedang belajar”. Kritik dapat dipahami sebagai bahan evaluasi, sedangkan hambatan dapat dilihat sebagai bagian dari proses pembentukan.

Selain itu, mahasiswa diingatkan untuk mengenali dan menerima emosi, berbicara kepada orang yang dipercaya, melakukan jurnaling, menjalankan aktivitas positif, menjaga kondisi fisik, serta membangun kehidupan doa yang konsisten.

Penutup

Seminar mental resilience menjadi bekal penting bagi mahasiswa STTIN Jakarta sebelum menjalani pelayanan selama 1 tahun dan 2 bulan di berbagai gereja, yayasan, dan lembaga sosial.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan lebih siap menghadapi persoalan yang sering muncul di lapangan. Mereka diharapkan mampu beradaptasi, mengelola tekanan, menerima evaluasi, menjaga kesehatan mental dan fisik, serta tetap menjalankan pelayanan dengan rendah hati dan berintegritas.

Sekolah Tinggi Teologi Immanuel Nusantara (STTIN) Jakarta berkomitmen untuk terus mempersiapkan mahasiswa menjadi pelayan Tuhan yang tangguh, matang secara pribadi, kuat secara rohani, dan siap menjawab kebutuhan masyarakat melalui pelayanan yang bertanggung jawab.

error: Jangan Copy Paste, Tuhan Memberkati
Tanya Saya