
Oleh: Pdm. Dr. R. Bimo Ario Tedjo, M.Th
Edisi, 07 Juli 2026
Sebagai orang percaya penting bagi kita untuk mengenal siapa itu Allah yang kita sembah, maka kita harus mengetahui sifat-sifat Allah. Alkitab mencatat bahwa Allah itu baik, penuh belas kasihan, penyayang dan pengasih, panjang sabar dan setia, juga adil. Dari seluruh sifat-sifat Allah ini menunjukkan dengan jelas bahwa Allah adalah kasih, tetapi seringkali antara kasih dan keadilan Allah seolah-olah bertentangan dalam perspektif manusia yaitu bahwa Allah penuh kasih dan pengampun namun juga adil untuk menghukum semua yang berbuat dosa tanpa terkecuali. Itu sebabnya dalam memahami sifat Allah kita sebagai orang percaya harus menggunakan perspektif sorgawi (Teosentris) bukan manusia (Antroposentris). Karena sesungguhnya kasih dan keadilan Allah menyatu dalam bentuk pengorbanan Yesus Kristus sang Juruselamat yang menyelamatkan manusia dan menunjukkan bahwa Allah adalah Kasih dan keadilanNya merupakan wujud nyata akan kasihNya.
Oleh karena itu melalui Firman Tuhan ini kita belajar bentuk Kasih Allah yang adalah:
- Kasih yang rela berkorban (ay. 9)
Kata “Mengutus” merupakan tindakan aktif Allah untuk mau berkorban dan pengorbanan yang Allah berikan bagi kita semua, bukan hanya fisik yang dikorbankan (tubuh Kristus) namun juga hati dan perasaan Allah sendiri.
Maka kita harus yakin dan percaya serta berharap dengan segenap hati kepada Tuhan (ay. 17-18) dan harus mau berkorban bagi Allah, sehingga semua yang kita lakukan harus dengan segenap hati untuk Tuhan bukan manusia (Kol. 3:23)
2. Kasih yang memiliki inisiatif (ay. 10)
Allah tidak bertindak apatis untuk menunggu kita datang meminta ampun dan mengasihi Allah namun sebaliknya Kasih Allah nyata dalam inisiatifnya walau manusia acapkali menyakiti hati Allah. Bisa kita bayangkan apabila Allah bersikap apatis pasti tidak ada yang diselamatkan.
Maka kita juga harus ber-inisiatif untuk mau mengasihi dan berdamai dengan sesama bahkan mereka yang telah menyakiti hati kita (ay.19), bukan hanya kepada mereka yang mengasihi kita namun semua orang (Luk. 6:32-33).
3. Kasih yang setia dan sempurna menyertai (ay. 12-13)
Frasa “Allah tetap di dalam kita, KasihNya sempurna dalam kita” (ay.12) dan “…kita mendapat bagian dalam Roh-Nya” (ay.13) menunjukkan adanya tindakan nyata Allah Roh Kudus yang selalu setia menyertai dan melindungi hidup kita selama-lamanya sesuai dengan kasih dan janjiNya yang kekal (Yer. 31:3).
Maka kita sebagai orang percaya tidak boleh munafik mengatakan mengasihi Allah namun tidak mau berdamai dengan sesama bahkan membenci, kita harus bertindak nyata untuk mau mengasihi dan mengampuni sesama serta tetap bersekutu dengan mereka di dalam Tuhan (ay. 20-21).
Kesimpulan: Kasih Allah itu aktif maka kita juga harus aktif dalam mengasihi. Marilah kita mengasihi Allah dan sesama kita bukan hanya di perkataan saja tetapi juga dalam perbuatan (1 Yoh. 3:18).
Tuhan Yesus memberkati